Senin, 28 Mei 2012

Mati Sia-Sia Lagi

Indramayu, e-gamaku.com - Kebetulan saat ini saya sedang pulang sebentar ke kampung. Baru beberapa jam duduk di rumah cerita pertama yang di dapat adalah kemarin ada yang mati. Berita mati mungkin biasa, sikapi saja dengan berdoa. Tapi tergantung bagaimana cara matinya seseorang. Yang baru saja mati adalah seorang TKW (Tenaga Kerja Wanita). Mati karena dibunuh oleh suaminya yang juga mati karena gantung diri.

Tekawe ini baru saja pulang dari perantauannya selama beberapa tahun diluar negeri. Ketika pulang ia menanyakan kepada suaminya mana hasil dari jerih payahnya selama ini diluar negeri. Kata suaminya "sudah habis". Entah untuk keperluan apa si suami ini menghabiskan uang hasil jerih payah istrinya. Lalu istrinya
marah dan minta cerai, suaminya mengatakan silahkan saja asal harta yang tersisa dibagi dua, istrinya tidak mau. Istrinya kembali marah karena reaksi si istri tersebut lalu si suami membunuh si istri. Setelah membunuh si suami pun bingung, takut dipenjara maka ia pun memutuskan untuk gantung diri. Semuanya mati.

Kasus pembunuhan dan bunuh diri di daerah ini bukan untuk pertama kalinya, beberapa kasus sudah pernah terjadi. Permasalahan sosial yang terjadi di daerah ini sebut saja Dadap pokok utamanya adalah soal ekonomi. Sebenarnya jika dikatakan golongan orang miskin rata-rata orang disini tidak terlalu miskin, rumahnya bagus-bagus, rata-rata penduduk yang dulu banyak berprofesi nelayan ini sudah banyak berubah menjadi tenaga bertaraf internasional. Mungkin masalahnya bukan uang, namun tetap ekonomi satu lagi mungkin bisa disebut "kelakuan".

Kejadian yang lain yang baru juga terjadi di daerah ini, Lagi Mati Lagi Ngoplos Miras. 3 Mati 5 Kritis setelah mengoplos miras di pesta hajatan masyarakat setempat. Ini pun bukan kali pertamanya orang mati mengoplos miras, orang-orang disini terlampau kreatif, beberapa bahan dicampur kedalam miras salah satunya yang paling banyak memakan korban adalah autan.

Secara penghasilan masyarakat setempat memiliki penghasilan lebih dari cukup untuk kebutuhan sehari-hari, apalagi yang menjadi tenaga kerja di luar negeri. Bisa membangun rumah, bisa beli ini itu. Hanya yang saya sebut "kelakuan" ini lah yang paling menghancurkan. Punya duit sedikit mabok, punya duit lebih madon, punya duit tambahan main judi, punya duit dan kesempatan kawin lagi.

Andai bisa disebut sebagai jaman jahiliyah mungkin cocok. Tidak hanya soal yang mati tadi kejadian yang saya temui, namun di daerah inipun sedang ada proyek pembelajaran bagi anak-anak miskin yang putus sekolah dari disnakertrans pusat. Mirip seperti paket A atau paket C mungkin, fasilitas lengkap dari makan 3 kali sehari yang tidak banyak dinikmati oleh yang sekolah secara umum, ditambah snack 2 kali, fasilitas menginap dan kebutuhan sehari-hari. Wow! Tapi bagi saya dengan program sebulan yang mengabiskan dana puluhan juta atau mungkin bisa mencapai seratus juta, hanya akan menghasilkan generasi yang akan "Mati Sia-Sia Lagi" karena tanpa konsep dan aplikasi yang jelas.

Sementara di tempat lain di Indramayu pula tepatnya di kotanya sana, sedang diadakan sebuah kegiatan oleh organisasi kemasyarakatan yang memiliki banyak pengikut di Indramayu, mengadakan acara semacam ekspo atau pameran yang juga mengahdirkan artis-artis ibukota. Dengan hasil sepi. karena mungkin tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya. Dikala persoalan masyarakat adalah di daerah daerah pinggiran, sebagian orang yang mengatakan dirinya petinggi justru membuat solusi dengan kegiatan instan hanya sebagai "peletup" di pusat kota. Sedikit mirip dengan Indonesia, banyak persoalan dipelosok negeri namun diselesaikan dengan gaya Jakarta lalu mengatasnamakan Kegiatan Nasional.

Yang jadi teka-i mati, yang mabok mati dan yang "disekolahin" pun bisa mati sia-sia lagi jika konsep pembangunan sosial masyarakatnya tidak massiv dan hanya berpusat di pusat-pusat kota yang tidak bisa mewakili masalah dari setiap pelosok daerah dengan karakteristik yang berbeda-beda. Ingin lebih banyak lagi yang "Mati Sia-Sia Lagi" Lanjutkan pembangunan masyarakat hanya di pusat-pusat kota. (PKR).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar